Rabu, 06 Oktober 2010

sistem integumen ikan

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi dan menginformasikan ikan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar. Kata ini berasal dari bahasa latin “intergum” yang berarti penutup.

Secara ilmiah kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan melindungi permukaan tubuh. Kulit sebagai pelindung tubuh terhadap bahaya.

B. Tujuan

Setelah mempelajari materi ini diharapkan audien mampu mengetahui dan memahami sistem integumen.















BAB II
PEMBAHASAN

Sistem Integumen
Sistem integumen pada seluruh mahluk hidup merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat mahluk hidup tersebut berada. Pada sistem integumen terdapat sejumlah organ atau struktur dengan fungsi yang beraneka pada bermacam-macam jenis mahluk hidup.
Yang termasuk dalam sistem integumen pada ikan adalah kulit dan derivat integumen. Kulit merupakan lapisan penutup tubuh yang terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis pada lapisan terluar dan dermis pada lapisan dalam. Derivat integumen merupakan suatu struktur yang secara embryogenetik berasal dari salah satu atau kedua lapisan kulit yang sebenarnya.
Sistem integumen yang berhubungan langsung dengan lingkungan tempat hidup memiliki berbagai fungsi yang sangat vital pada kehidupan ikan, yaitu :
1. Pertahanan fisik
Merupakan fungsi utama dari integument yaitu sebagai pertahanan pertama dari infeksi, paparan sinar ultra violet [UV] dan gesekan tubuh dengan air atau benda keras lainnya. Hal ini disebabkan karena kulit memiliki kelenjar mukosa sebagai pelindung kulit dari parasit, bakteri dan mikroorganisme merugikan lainnya serta memperkecil gesekan dengan adanya sifat mucus yang licin.
2. Keseimbangan cairan [air]
Keseimbangan cairan dilakukan oleh integumen kelompok amphibian dan ikan memiliki sistem tersendiri dalam proses keseimbangan cairan yaitu dengan menggunakan insangnya.

3. Thermoregulasi
Thermoregulasi dilakukan oleh vertebrata dengan jalan memasukkan dan mengeluarkan panas secara bergantian melalui aliran darah pada kulit.
4. Warna
Warna yang ada pada integurnen ikan digunakan sebagai alat komunikasi, tingkah laku seksual, peringatan dan penyamaran untuk mengelabui predator. Warna yang dihasilkan akan berbeda-beda yang disebabkan karena perbedaan tempat hidup dari ikan tersebut. Pada open-water fishes, warna tubuh ikan terbagi atas warna keperakan dibagian ventral dan warna iridescent biru atau hijau di bagian dorsal [countershading]. Ada tiga macam warna dominan ikan yang hidup dilautan, yaitu keperakan bagi ikan yang hidup di permukaan laut, kemerahan pada ikan yang hidup di daerah tengah perairan dan violet atau gelap pada ikan yang hidup di dasar perairan.
5. Pergerakan
Pergerakan ikan dipengaruhi pula oleh keberadaan sisik yang membantu dalam meningkatkan kemampuan berenang ikan yang menghadapi halangan kuat.
6. Respirasi
Respirasi ikan tidak menggunakan kulit sebagai sarananya tetapi dilakukan oleh golongan Amphibian. Hal ini dilakukan karena kulit merupakan lapisan yang relatif tipis, selalu basah dan terdapat banyak pembuluh darah sehingga pertukaranoksigen dan karbondioksida dapat berlangsung.
7. Kelenjar kulit
Pada kulit terdapat kelenjar yang memungkinkan ikan dapat mengeluarkan pheromone untuk menarik pasangannya dan sebagai alat untuk menetapkan daerah teritorial. Selain itu, kelenjar kulit juga dapat menghasilkan zat-zat racun yang berguna untuk mencari mangsa ataupun untuk pertahanan diri dari predator.
9. Keseimbangan garam [homeostatis] pada ikan dilakukan pada kulit dan insang yaitu dengan pengaturan kadar garam cairan tubuh ikan [osmoregulasi] sehingga cairan dalam tubuh akan tetap stabil sesuai dengan lingkungan dimana ikan berada. Pada ikan yang hidup di laut,kulit akan menjaga pengeluaran cairan dalam tubuh yang berlebihan sedangkan pada ikan yang hidup di perairan tawar, kulit akan mengatur agar cairan dari luar tubuh tidak terlalu banyak yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu, kulit berperan dalam proses ekskresi hasil metabolisme yang dilakukan oleh tubuh.
10. Organ indera Kulit memiliki sel-sel yang berfungsi sebagai reseptor dari stimulus lingkungan, misalnya panas, sakit dan sentuhan. Derivat integumen seperti barbels dan flaps memiliki sel-sel syaraf sebagai indera. Barbels berfungsi sebagai alat bantu makan dan mengandung organ-organ sensory serta sebagai alat untuk kamuflase pada ikan demikian juga flaps. Barbels ini ada yang berbentuk seperti alga. Letak dari barbels ada pada hidung, bibir, dagu, sudut mulut dengan bentuk rambut, pecut, sembulan, bulu dan lain-lain.

1. Struktur Kulit pada ikan

Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis atau corium.
• Epidermis selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang
dalam terdiri dari lapisan sel yang selalu giat mengadakan pembelahan untuk mengantikan sel-sel sebelah luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh. Lapisan ini dinamakan stratum germinativum (lapisan Malphigi).
• Dermis lebih tebal daripada epidermis dan tediri dari sel-sel yang susunannya lebih kompak. Lapisan ini berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik. Derivat-derivat kulit juga dibentuk dari lapisan ini. Pada dermis ini terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat.

Gambar 1 Bagian Kulit ikan Gambar 2 Kulit ikan teloskin

2. Lendir

Sel kelenjar yang berbentuk piala dan terletak didalam epidermis, mengeluarkan suatu zat (semacam glycoprotein) yang dinamakan mucin. Apabila mucin ini bersentuhan dengan air maka akan berubah menjadi lendir. Kegiatan sel kelenjar tersebut akan menentukan ketebalan lendir yang menutupi kulit. Umumnya ikan yang tidak bersisik memiliki lendir yang lebih tebal dibandingkan dengan ikan yang bersisik. Hal ini merupakan suatu keadaan pengganti ketiadaan sisiknya. Ketebalan sisik yang menyelimuti tubuh ikan tidak selalu sama dari waktu kewaktu. Pada keadaan yang genting, seperti bila melepaskan diri dari bahaya, sel kelenjar akan lebih giat lagi untuk mengeluarkan lendir sehingga lapisan lendir menjadi lebih tebal daripada keadaan normal. Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ikan dapat berenang lebih cepat, berperan dalam proses osmoregulasi sebagai lapisan semipermiabel yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit, mencegah infeksi dan menutup luka. Pada beberapa ikan, lendir berguna untuk menghindarkan diri dari kekeringan. Ikan paru-paru (Protopterus) di Afrika mengadakan tidur musim panas (summer destivation) pada musim kemarau dengan cara membuat lubang pada dasar sungai yang berlumpur. Apabila dasar sungai menjadi kering selama musim kemarau, ia akan tetap tinggal didalam lumpur yang dibuatnya dan tubuhnya dibungkus dengan lendir agar kulitnya selalu tetap basah. Bila musim penghujan tiba dan sungai pun kembali berair kembali maka ia akan keluar dari lubangnya. Beberapa ikan menggunakan lendir untuk membuat sarangnya dalam rangka melindungi telur yang telah dibuahi dari gangguan luar, misalnya ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis), sepat rawa (Trichogaster trichopterus) dan lain-lain.




3. Sisik

Sisik sering diistilahkan sebagai rangka dermis karena sisik dibuat dari lapisan dermis. Pada beberapa ikan sisiknya berubah menjadi keras karena bahan yang dikandungnya, sehingga sisik tersebut menjadi semacam rangka luar. Ikan yang bersisik keras terutama ditemukan pada ikan-ikan yang masih primitif. Sedangkan pada ikan modern kekerasan sisiknya sudah tereduksi menjadi sangat fleksibel. Disamping ikan-ikan yang bersisik, juga banyak terdapat ikan yang sama sekali tidak bersisik, misalnya ikan-ikan yang termaksud kedalam subordo Siluroidea (Ikan jambal Pangasius pangasius, lele Clarias batrachus, dan belut sawah Fluta alba). Sebagai suatu kompensasi, sebagaimana yang telah dikemukakan, mereka mempunyai lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih licin.

Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung didalamnya, sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu cosmoid, placoid, ganoid, cycloid, dan stenoid.

• Sisik cosmoid
Sisik cosmoid hanya terdapat pada ikan fosil dan ikan primitif. Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan, berturut-turut dari luar adalah vitrodentine yang dilapisi oleh semacam enamel, kemudian cosmine yang merupakan lapisan yang kuat, dan noncellular, terakhir isopedine yang materialnya terdiri dari substansi tulang. Pada lapisan isopedine terdapat pembuluh-pembuluh kecil. Yang menarik perhatian dari sisik ini adalah pertumbuhan sisik ini hanya pada bagian bawah, sedangkan pada bagian atas tidak terdapat sel-sel hidup yang menutup permukaan. Ikan yang memiliki sisik tipe cosmoid ini misalnya Latimeria chalumnae.

Gambar 3 Ikan coelacanth, Latemeria chalumnae
jenis ikan purba yang masih hidup

• Sisik placoid
Sisik ini hanya terdapat pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes). Bentuk sisik tersebut hampir seperti duri bunga mawar dengan dasar yang bulat atau bujur sangkar. Bagian yang menonjol seperti duri keluar dari epidermis. Susunannya hampir seperti gigi manusia. Pulp (bagian yang lunak) berisikan pembuluh darah dan saraf yang berasal dari dermis. Sisik placoid sering disebut juga dermal denticle.
• Sisik ganoid
Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan, lapisan terluar dinamakan ganoine yang materialnya terdiri dari garam-garaman organik. Dibawahnya terdapat lapisan seperti cosmine, dan lapisan paling dalam adalah isopedine. Berbeda dengan sisik cosmoid, sisik ganoid tumbuh dari atas dan bawah. Ikan yang memiliki sisik tipe ganoid ini antara lain Polypterus, Lapisostidae, Acipenceridae, dan Polyodontidae.





Gambar 4 Struktur sisik placoid dan sisik ganoid

• Sisik Cycloid dan Stenoid
Sisik ini terdapat pada golongan ikan Teleostei, dimana masing-masing terdapat pada golongan ikan bejari-jari sirip lemah (Malacopterygii) dan golongan ikan berjari-jari sirip keras (Acanthopterygii). Dibandingkan dengan ketiga sisik terdahulu, kedua sisik ini kepipihannya sudah tereduksi menjadi sangat tipis, fleksibel, transparant, dan tidak mengandung dentine maupun enamel. Pertumbuhan sisik ini terjadi pada bagian atas maupun bawah.


Gambar 5 Struktur sisik cycloid dan sisik ctenoid


Bagian sisik yang menempel pada bagian tubuh hanya sebagian, kira-kira separuhnya. Penempelannya secara tetanam kedalam sebuah kantong kecil didalam dermis dengan susunan seperti genting. Sisik yang terlihat adalah bagian belakang (posterior) dengan warna lebih gelap daripada bagian depannya (anterior), karena bagian belakangnya mengandung
butir-butir pigmen (chromatophore). Bagian anterior (yang tertanam dalam tubuh) transparan dan tidak bewarna. Susunan sisik yang seperti genting tersebut akan mengurangi gesekan dengan air sehingga ikan dapat berenang lebih cepat. Bagian-bagian sisik cycloid pada dasarnya sama dengan sisik stenoid, kecuali bagian posterior sisik stenoid dilengkapi
dengan ctenii (semacam gerigi kecil). Fokus merupakan titik awal perkembangan sisik dan biasanya berkedudukan di tengah-tengah sisik. Di daerah empat musim, sisik dapat digunakan untuk menentukan umur ikan. Circulus selalu bertambah selama ikan hidup. Pada musim dingin pertumbuhan ikan sangat lambat dan jarak antara circulus satu dengan yang lainnya menjadi sempit sekali, kadang malah tampak seperti berhimpitan. Circulus yang berhimpitan ini dinamakan annulus yang terjadi setahu sekali. Annulus ini digunakan untuk menentukan umur ikan. Bagian yang jelas untuk menentukan umur ikan ialah pada bagian anteriornya.



Gambar 6 Circulus pada sisik ikan yang menggambarkan umur ikan

4. Pigmen Warna

Ikan-ikan yang hidup di perairan bebas seperti tenggiri (Scomberomorus commersoni) dan lain-lain mempunyai warna tubuh yang sederhana, bertingkat dari keputih-putihan pada bagian perut, keperak-perakan pada sisi tubuh bagian bawah sampai kebiru-biruan atau kehijau-hijauan pada sisi atas dan kehitamhitaman pada bagian punggungnya. Ikan yang hidup didaerah dasar, bagian dasar perutnya bewarna pucat dan bagian punggungnya bewarna gelap. Warna tubuh yang cemerlang dan cantik biasanya dimiliki oleh ikan-ikan yang hidup di sekitar karang, misalnya ikan-ikan yang termaksud kedalam familia Apogonidae, Chaetodontidae, Achanturidae, dan sebagainya. Umumnya ikan laut yang hidup dilapisan atas bewarna keperak-perakan, dibagian tengah kemerah-merahan dan dibagian bawah ungu atau hitam. Warna ikan tersebut dikarenakan oleh schemachrome (karena konfigurasi fisik) dan biochrome ( pigmen pembawa warna).

Schemachrome putih terdapat pada rangka, gelembung renang sisik; biru dan ungu pada iris mata; warna-warna pelangi pada sisik, mata dan membran usus.

Yang termasuk biochrome ialah :
1. Carotenoid; berwarna kuning, merah dan corak lainnya
2. Chromolipoid; berwarna kuning sampai coklat
3. Indigoid; berwarna biru, merah dan hijau
4. Melanin; kebanyakan berwarna hitam atau coklat
5. Porphyrin atau pigmen empedu; berwarna merah, kuning, hijau, biru dan coklat
6. Flavin; berwarna kuning tetapi sering dengan fluoresensi kehijau-hijauan
7. Purin; berwarna putih atau keperak-perakan
8. Pterin; berwarna putih, kuning, merah dan jingga

Sel khusus yang memberikan warna pada ikan ada dua macam yaitu :
• Iridocyte (leucophore dan guanophore)
Sel ini dinamakan juga sel cermin karena mengandung bahan yang dapat memantulkan warna di luar tubuh ikan. Bahan yang terkandung dalam sel cermin antara lain guanin kristal (warna keputih-putihan) sebagai hasil buangan metabolisme.
• Chromatophore terdapat di dalam dermis
Sel ini mempunyai butir-butir pigmen yang merupakan sumber warna sesungguhnya. Butir pigmen ini dapat menyebar ke seluruh sel atau mengumpul pada suatu titik. Gerakan inilah yang menyebabkan perubahan warna pada ikan. Jika butir-butir pigmen mengumpul pada suatu titik maka warna yang dihasilkan secara keseluruhan nampak pucat. Sedangkan jika butir pigmen menyebar, maka warna akan terlihat jelas tergantung pada butir pigmen tersebut. Ummnya satu warna khas tergantung pada kombinasi chromatophore dasar yang mengandung satu warna. Chromatophore dasar ada empat jenis yaitu erythrophore (merah dan jingga), xanthophore (kuning), melanophore (hitam), dan leucophore (putih).

5. Organ Cahaya

Cahaya yang dikeluarkan oleh jasad hidup dinamakan bioluminescens, yang umumnya bewarna biru atau biru kehijau-hijauan. Terdapat dua sumber cahaya yang dikeluarkan oleh ikan dan keduanya terdapat pada kulit, yaitu warna yang dikeluarkan oleh bakteri yang bersimbiosis dengan ikan dan cahaya yang dikeluarkan oleh ikan itu sendiri. Ikan-ikan yang dapat mengeluaran cahaya umumnya tinggal di bagian laut dalam dan hanya sedikit yang hidup diperairan dangkal. Sebagian dari padanya bergerak ke permukaan untuk ruaya makanan. Di laut dalam terletak antara 300 – 1000 meter dibawah permukaan laut. Sel pada kulit ikan yang dapat mengeluarkan cahaya disebut sel cahaya atau photophore (photocyt). Ini biasanya terdapat pada golongan Elasmobranchii (Sphinax, Etmopterus, Bathobathis moresbyi) dan Teleostei (Stomiatidae, Hyctophiformes, Batrachoididae).
Cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri yang hidup bersimbiosis dengan ikan, misalnya terdapat pada ikan-ikan dari famili Macroridae, Gadidae, Honcentridae, Anomalopodidae, Leiognathidae, Serranidae, dan Saccopharyngidae. Di Laut Banda ikan leweri batu (Photoblepharon palpebatrus) dan leweri air (Anomalops katoptron), yang keduanya termaksud kedalam famili Anomalopodidae, mempunyai bakteri cahaya yang terletak dibawah matanya. Kedua ikan tersebut hidup di perairan dangkal. Anomalops mengeluarkan cahaya yang berkedap-kedip secara teratur yang dikendalikan oleh organ cahaya yang keluar masuk suatu kantong pigmen hitam dibawah mata. Photoblepharon menunujukan suatu cahaya yang menyala terus, tetapi dapat pula dipadamkan oleh suatu lipatan jaringan hitam yang menutupiorgan cahayanya. Bakteri yang dapat mengeluarkan cahaya terdapat didalam
kantung kelenjar di epidermis. Pemantulan cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh jaringan yang berfungsi sebagai lensa. Pada bagian yang berlawanan dengan lensa banyak pigmen yang berfungsi sebagai pemantul. Ada juga kelenjar yang berisi bakteri itu
dikelilingi oleh sel-sel pigmen itu seluruhnya. Pemencaran cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh konstraksi pigmen yang berfungsi sebagai iris mata.
Pada ikan Malacocephalus (yang hidup di laut dalam), pengeluaran cahayanya mempunyai peranan dalam pemijahan. Kekuatan cahayanya dapat menerangi sejauh 10 meter dengan panjang gelombang 410 – 600 mikrometer. Pada musim pemijahan, bila ikan jantan bertemu dengan ikan betina, maka si jantan akan membimbing betinanya untuk mencari tempat yang baik untuk berpijah. Cahaya yang dikeluarkan oleh ikan jantan dipakai sebagai isyarat untuk diikuti si jantan.
“Anglor fish”(Linophyrin brevibarbis), yang terdapat didasar laut, mempunyai tentakel yang bercahaya. Diduga ikan ini mempunyai kultur bakteri yang terdapat pada kulitnya. Tentakel yang ujungnya mempunyai jaringan yang membesar itu digosokan di atas kultur bakteri tersebut, sehingga bakteri yang bercahaya terbawa oleh tentakel untuk menarik perhatian mangsanya.
Jadi fungsi organ cahaya pada ikan ialah sebagai tanda pengenal individu ikan sejenis untuk memikat mangsa, menerangi lingkungan sejenis, mengejutkan musuh, dan melarikan diri, sebagai penyesuaian ketidak adaan sinar di laut dalam dan diduga sebagai ciri ikan beracun

6. Kelenjar Beracun

Kelenjar beracun merupakan derivat kulit yang merupakan modifikasi kelenjar yang mengeluarkan lendir. Kelenjar beracun ini bukan saja dipergunakan untuk pertahanan diri saja, tetapi juga untuk menyerang dan mencari makan. Studi tentang racun ikan ini dinamakan ichthyotoxisme, yang meliputi ichthyosarcotoxisme (mempelajari berbagai macam keracunan akibat memakan ikan beracun) dan ichthyoacanthotoxisme (mempelajari sengatan ikan berbisa). Jadi ichthyotoxisme tidak terbatas mempelajari yang dikeluarkan oleh kulit saja, melainkan racun yang berasal dari organorgan lain dan gejala keracunan dengan segala aspek-aspeknya. Ikan-ikan yang sistem integumennya mengandung kelenjar beracun antara lain ikan-ikan yang hidup disekitar karang, ikan lele dan sebangsanya (Siluroidea), dan golongan Elasmobranchii (Dasyatidae, Chimaeridae, Myliobathidae). Beberapa jenis ikan buntal (Tetraodontidae) juga terkenal beracun, tetapi racunnya bukan berasal dari sistem integumennya, melainkan dari kelenjar empedu.
Ikan lepu ayam ( Pterois volitans dan Pterois russelli ) mempunyai alat beracun yang terdiri dari 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Jari-jari kerasnya berbentuk panjang, lurus, ramping dan indah warnanya. Pada bagian sisi kiri kanan jari-jari keras tersebut terdapat celah yang terbuka sehingga membentuk saluran. Jari-jari keras ini dilapisi oleh selaput integumen. Pada ikan lepu angin (Scorpaena guttata) alat beracunnya terdiri dari12 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga, Synanceja horrida, mempunyai racun yang dapat mematikan manusia. Racunnya ini terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga yang paling ditakuti oleh para nelayan. Badannya berbintil-bintil dengan warna kecoklatan (Gambar 7) . Ikan lepu tembaga tinggal di dasar perairan yang dangkal berpasir atau berkarang, dan di daerah yang terdapat vegetasi umpamanya samo-samo (Enhalus acoroides ) ( Burhanudin et al.,---). Gerakannya lamban dan pada siang hari hanya berdiam diri dalam waktu yang lama. Permukaan tubuhnya yang mempunyai warna yang mirip benar dengan dasar perairan dan bentuknya yang mirip batu menjadikan ikan ini sukar dilihat. Kadang-kadang kulitnya ditutupi pasir atau bahan lainnya.

Dibandingkan dengan lepu ayam dan lepu angin, ikan lepu tembaga mempunyai jari-jari keras beracun yang lebih pendek dan kukuh.
.


Gambar 7. Ikan lepu tembaga, Synanceja horrida



Gambar 8. Jari-jari keras sirip punggung ikan lepu ayam (A), lepu angin (B) dan lepu tembaga (C)

Ikan baronang (Siganus) mempunyai kelenjar beracun yang terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 4 jari-jari keras sirip perut dan 7 jari-jari keras sirip dubur.

Kantung kelenjar pada Siluroidea umumnya terdapat pada dasar jari-jari keras sirip punggung dan dada, yang dilengkapi gerigi yang membengkok ke dalam. Bila kantung kelenjar tertekan oleh jari-jari siripnya akan mengeluarkan cairan yang beracun melalui sebuah alur yang terdapat pada jari-jari keras tersebut dan diteruskan ke dalam luka. Beberapa anggota Siluroidea misalnya: sembilang (Plotosus canius), lele (Clarias batrachus)

Gambar 9. Potongan lintang duri ekor ikan pari

Kelenjar beracun ikan pari (Dasyatis) terdapat pada duri di ekornya. Duri ini tersusun dari bahan yang disebut vasodentino. Sepanjang kedua sisi duri tersebut terdapat gerigi yang bongkok ke belakang. Duri tersebut ditandai oleh adanya sejumlah alur yang dangkal sepanjang duri. Sepanjang tepi alur, pada bagian bawah duri, didapatkan satu celah yang dalam. Jika diamati dengan teliti maka pada celah ini akan tampak berisikan suatu jalur berupa jaringan kelabu, “spongy“, lembut meluas sepanjang celah. Racun dihasilkan oleh jaringan ini, meskipun jumlahnya lebih sedikit dari pada yang dihasilkan oleh bagian lain dari selaput integumen dan bagian khusus tertentu kulit pada ekor yang terletak didekat duri. Celah ini berfungsi melindungi jaringan kelenjar (Gambar 9). Mengingat adanya racun pada duri ikan pari, maka para nelayan akan membuang duri tersebut segera setelah ikan tertangkap untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
























BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Sistem Integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Organ integumen yang terdapat pada ikan (pisces) seperti kulit, lendir, pigmen warna, organ cahaya, kelenjar beracun. Kulit merupakan pembalut tubuh yang berfungsi sebagai alat pertahanan pertama terhadap penyakit, dan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Struktur kulit dibagi menjadi dua, yang pertama epidermis yaitu kuloit bagian luar, dan dermis kulit bagian dalam.

Lendir yaitu zat (semacam glycoprotein) yang dinamakan mucin.Apabila bersentuhan dengan air membentuk lendir yang terdapat pada ikan yang tidak bersisik lebih tebal dari pada ikan yang bersisik. Sisik merupakan mmerupakan bagian dari rangka dermis karena dibuat dari lapisan dermis. Bentuk dan bahan yang dikandung sisik ikan dibedakan menjadi 5 jenis yaitu cosmoid contohnya ikan coelacanth (catemeria chalumnae), placoid hewan bertulang rawan (chondrichthyes), ganoid, cycloid, stenoid.

Beragamnya warna dari bermacam – macam jenis ikan diakibatkan oleh schemachrom (konfigurasi fisik), biochrome (pigmen pembawa warna), iridocyte (sel cermin karena dapat memantulkan warna dari luar tubuh), cromatophore (butiran – butiran pigmen merupakan sumber warna sesungguhnya). Organ cahaya pada jasad hidup atau disebut biolumines. Cahaya yang dikeluarkan oleh ikan terdapat dua sumber pada kulit yaitu dikeluarkan oleh bakteri yang bersimbiosis dengan ikan seperti ikan lemeri batu dan lemeri air, dan cahaya yang dikeluarkan sendiri oleh ikan contohnya ikan malacocephalus.

1 komentar:

  1. thank for the information, very very useful and help

    BalasHapus